Di tengah laju percepatan global menuju era energi bersih dan rendah karbon, sektor minyak dan gas bumi (migas) terbukti masih memegang peran yang sangat krusial di Indonesia. Sektor hulu migas tidak hanya berfungsi menjaga ketahanan energi domestik, tetapi juga menjadi motor penggerak stabilitas ekonomi. Hal ini dikarenakan lonjakan kebutuhan energi di dalam negeri yang terus tumbuh linear dengan perkembangan industri dan populasi, membuat ketergantungan pada pasokan konvensional belum bisa ditinggalkan sepenuhnya.
Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Bayu Kusuma Dewanto, menegaskan bahwa posisi strategis migas bertindak sebagai jembatan finansial sekaligus operasional dalam proses transisi. Arus kas yang dihasilkan dari lini bisnis migas tradisional menjadi modal utama bagi korporasi untuk membiayai agenda besar investasi jangka panjang. Pendapatan tersebut dialokasikan kembali untuk mendanai kegiatan eksplorasi masif, menjaga volume produksi, hingga menyokong diversifikasi ke arah pengembangan bisnis berbasis energi baru terbarukan (EBT).
Strategi Menghadapi Penurunan Produksi Alami Langkah mempertahankan pasokan dalam negeri bukan tanpa kendala. Industri hulu saat ini dihadapkan pada tantangan berat berupa penurunan alamiah (natural decline) dari sumur-sumur minyak yang sudah berumur tua. Guna mengatasi defisit tersebut, sejumlah langkah taktis dan teknologi mutakhir terus diimplementasikan secara agresif demi mengamankan target produksi nasional.
Melaksanakan pengeboran (drilling) sumur baru secara berkala untuk mencari cadangan segar.
Melakukan optimalisasi sumur eksisting melalui program workover serta well intervention & well service (WIWS).
Menerapkan teknologi canggih berbasis Enhanced Oil Recovery (EOR) dan Improved Oil Recovery (IOR).
Mengintensifkan pemetaan dan eksplorasi pada cekungan-cekungan migas baru yang potensinya belum tergarap optimal di berbagai wilayah Indonesia.
Komitmen Hijau dan Tata Kelola Bersih Kendati tetap fokus memproduksi hidrokarbon, komitmen terhadap isu lingkungan tidak dikesampingkan. Penyelarasan bisnis hulu migas kini wajib berjalan beriringan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Salah satu terobosan konkret yang diusung adalah pemanfaatan teknologi Carbon Capture, Storage, and Utilization (CCS/CCUS) yang diproyeksikan mampu mereduksi emisi karbon secara signifikan sekaligus meningkatkan efisiensi lapangan migas tua. Pertamina sendiri tercatat mengelola potensi kapasitas penyimpanan karbon raksasa hingga 7,3 Giga Ton di 11 titik prioritas nasional.
Di samping memitigasi dampak lingkungan, penguatan dari sisi tata kelola internal turut menjadi pilar keberlanjutan industri. Penerapan kebijakan tegas Zero Tolerance on Bribery serta implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) berbasis standar internasional ISO 37001:2016 menjadi jaminan mutu. Langkah integratif ini diadopsi agar sektor domestik tetap relevan, memiliki daya saing tinggi di kancah global, serta bersih dari praktik fraud demi kemakmuran ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Sumber: money.kompas.com