Tiongkok kini tengah menghadapi ancaman krisis demografi yang kian mengkhawatirkan setelah angka kelahiran di negara tersebut merosot tajam ke rekor terendah sepanjang masa. Berdasarkan data terbaru dari Wind Information dan Biro Statistik Nasional China (NBS), angka kelahiran pada tahun lalu tercatat hanya sebesar 5,6 per 1.000 penduduk, turun signifikan dari angka 6,4 pada tahun 2023. Secara total, jumlah bayi yang lahir sepanjang tahun lalu berada di kisaran 7,9 juta jiwa, menyusut sekitar 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang masih mencapai 9,5 juta kelahiran. Kondisi ini menandai penurunan paling drastis sejak pencatatan resmi dimulai pada tahun 1950-an.
Fenomena penurunan populasi yang terjadi selama empat tahun berturut-turut ini membuat jumlah penduduk Negeri Tirai Bambu berkurang sebesar 3,4 juta jiwa, sehingga kini total populasi Tiongkok berada di angka 1,405 miliar. Di sisi lain, angka kematian justru mengalami kenaikan menjadi 11,31 juta jiwa. Para ahli demografi bahkan menyamakan situasi kesuburan saat ini setara dengan kondisi pada tahun 1738 silam, masa di mana total populasi Tiongkok baru mencapai sekitar 150 juta jiwa. Keadaan ini terus memburuk meskipun pemerintah pusat telah melakukan berbagai upaya masif untuk membalikkan tren negatif tersebut.
Faktor Ekonomi dan Enggannya Generasi Muda Berkeluarga
Penyebab utama di balik keengganan generasi muda di Tiongkok untuk menikah dan memiliki anak berakar pada masalah finansial. Tekanan ekonomi yang meningkat, perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional, tingginya angka pengangguran di kalangan usia muda, serta persaingan dunia kerja yang semakin ketat membuat biaya membesarkan anak dirasa terlalu mahal. Padahal, Beijing tidak tinggal diam dengan menggelontorkan berbagai stimulus dan program insentif.
Beberapa langkah konkret yang telah diambil pemerintah China meliputi:
Alokasi anggaran sebesar 90 miliar yuan untuk program subsidi perawatan anak nasional bagi usia di bawah tiga tahun.
Perpanjangan masa cuti melahirkan bagi orang tua dari 98 hari menjadi 158 hari.
Pemberian hadiah uang tunai serta pemotongan pajak bagi rumah tangga.
Rencana perluasan asuransi kesehatan nasional guna menutupi seluruh biaya persalinan.
Namun, semua insentif tersebut tampaknya mulai kehilangan taji dan belum mampu meyakinkan kaum muda yang telanjur terbebani oleh tingginya biaya hidup.
Dampak Jangka Panjang terhadap Stabilitas Ekonomi
Para ekonom memperingatkan bahwa penyusutan angkatan kerja dan lonjakan populasi lanjut usia (lansia) membawa risiko besar bagi stabilitas ekonomi masa depan China. Pada tahun lalu, proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas telah meningkat menjadi 23 persen. Berkurangnya jumlah bayi lahir mengindikasikan bahwa jumlah tenaga kerja produktif di masa depan tidak akan mampu menopang kelompok pensiunan yang terus membengkak. Dampaknya, sistem dana pensiun negara akan mengalami tekanan berat dan memaksa peningkatan iuran jaminan sosial yang pada akhirnya memangkas pendapatan bersih para pekerja muda.
Selain masalah tenaga kerja, penurunan populasi juga berisiko memperkecil basis konsumen domestik di masa depan, yang memicu ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan pasar. Di tengah situasi makroekonomi yang melambat�di mana PDB tahunan China tumbuh 5 persen dan penjualan ritel hanya tumbuh 0,9 persen pada akhir tahun�pemerintah setempat kini harus memutar otak lebih keras. Diversifikasi pasar ekspor ke luar Amerika Serikat dan surplus perdagangan sebesar 1,2 triliun dollar AS memang memberikan sedikit napas bagi perekonomian, namun persoalan domestik terkait resesi demografi tetap menjadi bom waktu yang nyata bagi Tiongkok.
Sumber: money.kompas.com